Orang Desa Tanpa Negara


Cover Si DjumAuthor : Ka’syms & ft. Tania Rooz,
Publisher : Seruni Creative Publishing
First Publishing: 2012
Size: 174  & 140 x 210 mm.
Genre: Urban story, Short story
ISBN: 978-602-15463-6-9

Ketika peran negara nyaris tidak ada dan hukum yang berlaku dalam kenyataan lebih dekat dengan hukum rimba, orang-orang kecil di desa terjepit antara kemiskinan dan desakan kebutuhan hidup. Yang terjadi kemudian adalah yang terungkap dalam Kesaksian Si Djum.

Kesaksian  Djum merupakan antologi cerita pendek terbitan Seruni Creative Publishing, Sulawesi Utara, 2012. Memuat 20 cerpen karya Ka’syms (Stevi Yean Marie Sundah) dan Tania Roos.

Ka’syms adalah penulis kelahiran Balikpapan, Kaltim, tetapi menetap di Wonosobo, Jateng. Ia juga pengelola Rumah Baca Istana Rum­bia bersama istrinya, Ma­ria Bo Niok. Sedang Tania Roos adalah mantan TKW Hongkong, asal Malang, Jatim, sekarang be­ker­ja sebagai wartawan pada Ra­dar Taiwan. Ada 9 cerpen Tania Roos dalam antologi setebal 174 halaman ini.

Para tokoh sentral dalam Kesaksian Si Djum adalah orang desa yang bergelimang kemiskinan, kemalangan, dan kesulitan hidup. Desa bagi mereka menjadi setting hidup yang tidak menumbuhkan harapan bagi kesejahteraan. Dalam antologi cerpen ini, desa hanyalah antologi kemuraman orang-orang yang tinggal di dalamnya. Dalam cerpen “Si Djum” karya Ka’syms memang digambarkan bahwa petani senang bila panen tiba, tapi itu sudah masa lalu.

Sekarang justeru kami menghindari panen raya. Panen raya akhir-akhir ini sering membuat petani menjerit. Beras yang berasal dari keringat para petani dibeli dengan harga murah oleh para pengepul beras lalu dijual ke konsumen dengan harga tinggi. Selain itu, beras lokal harus bersaing dengan beras dari luar negeri yang dimasukkan ke Indonesia. (Cerpen “Si Djum”, hlm. 70) .

Walau begitu, aku menyadari mungkin kepergiannya sama dengan diriku waktu itu, yakni karena keterpaksaan. Keterpaksaan untuk mengubah sebuah masa depan yang jelas semakin suram bila tetap bertahan di kampung halaman (Cerpen “Cousan, Desvouex Road” karya Tania Roos,  (hlm. 124).

Jangankan untuk masa depan, mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan saja begitu sulit. Ban­ting stir tidak mengubah keadaan. Kemalangan, musibah, juga keserakahan dan ketidakadilan, membuat hidup wong cilik semakin sulit. Itulah problem desa dalam antologi ini.

Orang desa lalu mengambil keputusan berbeda-beda. Para tokoh dalam cerpen “Kidung Kaum Pinggiran” karya Tania Roos memilih bertahan. Mereka para pemulung yang tinggal di gubuk di bantaran Sungai Brantas, Malang. Dan kehidupan mereka tetap papa, tidak berubah. Ada juga yang bertahan, tapi kemudian terlibat dalam kejahatan, termasuk pembuatan uang palsu, sehingga ada yang jadi buron, bahkan masuk penjara. Ini diangkat Ka’sym dalam “Cinta Sebelas Malam”, cerpen yang juga memperlihatkan bahwa kemiskinan mengakibatkan keluarga kacau-balau.

Keputusan berbeda diambil oleh kebanyakan tokoh cerita. Mereka memilih meninggalkan desa. Orang-orang desa itu cenderung berpikir, di luar sana memang belum tentu lebih baik, tapi di sana harapan masih ada. Maka, dengan harapan dapat mengubah nasib keluarga, mereka meninggalkan desa. Sebagian menyerbu kota-kota dan menjadi kaum urban di kota yang gemerlap. Namun, karena keterbatasan, mereka hanya bekerja di sektor informal: pembantu rumah tangga (PRT), supir, tukang kebun, bahkan PSK.

Dalam upayanya “merebut” hidup, orang-orang desa itu sebagian pergi lebih jauh: ke luar negeri. Mereka bermigrasi ke sejumlah negara seperti Malaysia, Arab Saudi, dan Hongkong. Di sana mereka menjadi buruh migran (TKI/TKW).

Karena urbanisasi dan migrasi, keluarga di desa banyak yang tak lengkap. Ada yang anak, kakak, atau adiknya pergi. Ada yang ayah dan/atau ibu pergi. Ada yang suami atau istri pergi. Dalam cerpen “Si Djum”, si Djum menjadi PRT di Jakarta, suaminya menjadi TKI di Malaysia, sedang anaknya ditinggal dengan nenek di Jawa Tengah.

Itu karena kesejahteraan hidup harus diperjuangkan sendiri. Peran negara atau pemerintah? Orang desa justru sinis. Para pemimpin (penguasa) bukan memperjuangkan kesejahteraan mereka, justru serakah, membutakan mata terhadap kaum pinggiran, dan tidak mau berbagi.

“… lagian kan kalau udah musibah kita baru bisa bersalaman dengan bapak-bapak pejabat,” jawab Pakde Tarjo ringan seraya meneruskan rengeng-rengengnya. (cerpen “Kidung Kaum Pinggiran” karya Tania Roos, hlm. 146).

Di kota dan di luar negeri, dalam lingkungan hidup yang baru dan jauh lebih keras, orang-orang desa menemukan banyak problema dan kemalangan baru. Ada yang menjadi korban penipuan, dieksploitasi, didiskriminasi, diperas, dilecehkan, dianiaya,  dipermainkan, tak dihargai haknya, bahkan ada yang pulang tinggal jasadnya. Dalam keadaan seperti itu, lagi-lagi mereka seolah-olah tak punya negara yang sanggup melindunginya.

Tokoh Aku (Sariati) dalam cerpen “Kabut Bukit Lokfu” karya Tania Roos, misalnya. Ia seorang istri asal Malang, Jawa Timur. Ia menjadi TKW di Hongkong setelah Kang Sarman, suaminya, di-PHK oleh perusahaan. Oleh majikan, Sariati dianiaya hingga ia tidak kuat lagi. Cerpen ini ditutup dengan ending ucapan Kang Sarman berikut:

“Kalau memang kamu tidak sanggup, pulang saja, Tik. Kita masih punya ladang untuk menyambung hidup. Rizki Allah ada di mana-mana. Kalau Allah memberkahi kita pun masih bisa hidup di kampung kita. Mencari rizki tak perlu terlalu menjual harga diri, Tik. Yang seharusnya malu dan tak berharga diri bukan kamu tapi negara kita karena tidak sanggup menjamin kesejahteraan bagi warganya. Pulang saja ya Tik, aku menunggumu.”

Perempuan desa yang bermigrasi dengan menjadi TKW di Hongkong mendapat tempat yang luas dalam Kesaksian Si Djum. Suasana, gaya hidup, kultur, agama/kepercayaan, dan sebagainya yang berbeda antara masyarakat desa dan masyarakat kota sebesar, bebas, dan semodern Hongkong, ditambah kemajuan teknologi informasi semacam internet dan handphone yang bukan menjadi barang asing bagi para TKW, semua itu menjadikan kehidupan TKW di Hongkong penuh warna. Ada hitam, putih, abu-abu, dan sebagainya. Semua itu ada dalam Kesaksian Si Djum.

Urbanisasi dan migrasi sebetulnya sudah menjadi masalah klise. Namun, jika masalah tersebut masih juga diangkat di dalam karya sastra, selain hingga saat ini urbanisasi dan migrasi masih terus berlangsung, ini justru memperlihatkan betapa penanganannya selama ini masih jauh panggang dari api. Sebab, hari ini urbanisasi dan migrasi masih ada, berarti kemiskinan di desa-desa masih belum terpecahkan. (*)

* Peresensi: Kuswinarto, peminat sastra, tinggal di Pare, Kediri, Jawa Timur

* Liat catatan tangan lainnya dari: KUSWINARTO

Geliat Sang Kung Yan


Geliat Sang Kung YanAuthor: Maria Bo Niok
Genre: Autobiography, short story
First publishing: Juli 2007
Prolog: Stevi Sundah
Page:  xvi + 284 hal.
Size: 12 x 18 cm
Press/Publishing: Gama Media
Publishing code: GM.226.9193.07
ISBN: 979-3092-82-3

Merajut Autobiografi Untuk Sebuah Perubahan*)

Manusia di dunia ini bertualang untuk merajut kehidupannya hingga kembali pada Yang Ilahi. Dalam setiap petualangan yang dilakukannya, manusia bertemu dengan sesamanya dan membentuk sebuah jaringan kehidupan. Jaringan kehidupan ini mengantarkannya pada pertemuan-pertemuan yang tak terduga maupun yang telah direncanakannya.

Pertemuan-pertemuan dimulainya sejak kecil tepat pada saat seorang manusia dilahirkan ke dalam dunia ini. Kelahiran seorang anak manusia dalam bentuk perwujudan bayi selalu diawali dengan isak tangis. Secara biologis, isak tangis bayi ini disebabkan oleh proses adaptasi bayi dengan keadaan sekitarnya. Bayi yang lemah dan rawan terhadap serangan dari luar selanjutnya dirawat, dipeluk dan diberi sentuhan belai kasih dari orang tua, khususnya sang ibunda yang telah menjalin benang sutera kehidupan dengan bayi sejak proses terjadinya embrio di dalam rahim sang ibunda. Masa dari dalam rahim hingga ke luar dari rahim ibu dan kemudian berkembang menjadi seorang manusia dewasa adalah suatu masa yang penuh petualangan dan jalinan benang sutera kehidupan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Rajutan benang sutera ini dapat menjadi rajutan yang indah dan penuh dengan motif-motif yang sedap dipandang dan dinikmati oleh panca indera namun tidak menutup kemungkinan benang sutera ini akan kusut dan tumpang tindih sehingga proses merajut kehidupan harus mengalami penundaan waktu, pemutusan benang-benang yang kusut dan pencurahan pemikiran yang mendalam untuk mengembalikan benang yang kusut ke keadaan semula, sehingga rajutan pun dapat kembali dilakukan dan diselesaikan menjadi sebuah hasil karya maha agung nan indah. Hasil karya yang akhirnya layak mendapat pujian dan penghargaan, baik bagi si pengrajut, pengamat maupun Sang Kolektor.

Ibarat rajutan tadi, demikian pula halnya Maria. Sebagai seorang manusia yang terlahir dari budaya Jawa, Maria Bo Niok tidak terlepas dari unsur pengalaman-pengalaman di masa kecilnya, keadaan lingkungan di sekitarnya, orang-orang dewasa yang membimbing dan menuntunnya serta teman-teman sebaya yang menjadi teman sepergaulannya. Keadaan dusunnya yang penuh dengan suasana adem ayem, baik yang terpancar dari alam, budaya maupun peri kehidupan masyarakat sekitarnya sangat mempengaruhi sosok seorang Maria Bo Niok yang bernama asli Siti Mariam Ghozali.

Maria terlahir dalam sosok wanita, wanodya kang puspita. Dalam posisinya sebagai wanita, ia haruslah mampu menempatkan dirinya sebagai dambaan insani, terutama dambaan anak-anak dan keluarganya. Selain itu, Penulis juga merasa menjadi bagian dari masyarakat sekitarnya. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawabnya secara sosial.

Dalam dunia sastra, sebagai petualang baru, Maria perlu lebih banyak lagi mendalami karya-karya autobiografi dari penulis-penulis sebelumnya yang telah mampu menarik minat Pembaca. Beberapa di antaranya yaitu The Pillow Book karya Sei Shonagon, Sarashina Nikki dan Murashaki Shikibu Nikki yang merupakan diari dari penulis novel, Genji Monogatari, yang juga seorang perempuan. Karya-karya ini dapat digolongkan dalam jenis sastra self/confessional writing yang mencapai puncak perkembangan dalam kesusasteraan Inggris dan Amerika pada abad ke-19.

Cerita-cerita yang keluar maupun berkisah tentang kehidupan wanita dewasa, khususnya wanita karier yang hidup di kota metropolis, dapat digolongkan ke dalam chicklit (chick literature) dan cerita-cerita yang keluar dari anak-anak yang mulai beranjak dewasa maupun berkisah seputar dunia remaja dapat digolongkan ke dalam teenlit (teen literature). Bagaimana dengan kisah-kisah yang keluar dari rahim para pekerja rumah tangga atau ‘domestic worker’ ? Apakah mereka dapat digolongkan ke dalam wilayah sastra pekerja rumah tangga yang selanjutnya dapat dijadikan bagi para pekerja rumah tangga untuk menjadi bahan bacaannya dan literatur kehidupan mereka ? Atau mungkin dapat digunakan bagi para majikan sebagai literatur dalam memanusiakan pembantu ?

Permasalahannya, sebagian orang berpandangan dan beranggapan bahwa pekerja rumah tangga atau yang lazimnya disebut sebagai pembantu, bahkan terkadang secara kasar dipanggil dengan kata ‘babu’ mendapat stereotip negatif dan seakan tidak diperkenankan untuk menambah referensi ilmunya dengan jalan membaca sebuah buku saat tinggal di rumah majikan. Mereka, sebagian orang itu, merasa tidak pantas bagi seorang babu untuk membaca sebuah buku karena mereka takut babu atau pembantu yang mereka pekerjakan itu akan melawan dan membantah mereka jika para babu ini diperlakukan secara kasar dan dilecehkan hak asasinya.

Zaman sudah berubah, era perbudakan sudah berganti dengan era keterbukaan informasi, dimana setiap orang tidak dapat lagi dikekang intelektual dan usaha pencarian kesejatian dirinya dalam bentuk penindasan. Babu juga manusia yang mempunya hak asasi. Dalam budaya patriarkal yang masih mementingkan unsur kekuasaan dan kekuatan, para perempuan yang sering menjadi makhluk tertindas berusaha menunjukkan hakikat sejati keberadaan dirinya. Mereka, kaum perempuan, berusaha keluar dari ketertindasan peradaban ini. Mereka berdiri di atas kaki sendiri menunjukan hakikat sejatinya sebagai seorang perempuan yang sekaligus juga wanita. Mereka juga penentu nasib sebuah peradaban yang dapat mengangkat harkat dan martabat sebuah masyarakat juga dapat menjatuhkannya ke dalam jurang terdalam dari perikemanusiaan.

Dengan tekad dan semangat yang tiada pantang menyerah, Maria berusaha merajut kembali kisah-kisah masa lalunya melalui kepingan-kepingan cerita pendek. Seribu satu pengalaman dialaminya dalam kehidupan ini. Terkadang kisah itu begitu cepat mengalir dalam pikirannya karena mempunyai kesan yang mendalam. Tidak jarang pula Maria harus berusaha menjauhkan unsur emosi tatkala mengingat kisah-kisah pahit yang pernah dialami. Tak jarang pula tetes air mata jatuh membasahi sesobek ingatan yang berusaha dituliskannya dalam setiap gemulai ketikan. Unsur penokohan, dalam hal ini, sangat membantu dirinya dalam membuat cerita pendek dan menghindarkannya dari jeratan-jeratan emosi yang kembali terkuak saat masa lalunya disingkap dengan penuh keberanian.

Setiap usaha dan gerak psikomotoris yang dilakukannya ini adalah merupakan dorongan yang selanjutnya menemukan hasrat dan berakumulasi pada kemauan untuk menuju perubahan hidup yang lebih baik. Stres dan keterpurukan dalam menghadapi benang-benang kehidupan yang kusut baginya adalah hal-hal negatif yang harus dikurangi dengan kegiatan menulis. Naik turunnya rajutan benang sutera kehidupan, ibarat naik turunnya konflik dalam alur cerita yang terkadang dapat membuat kita menangis, cemberut, tertawa, mengerutkan dahi, menggerutu, mencibir, menggigit bibir sendiri, dan seribu satu senam wajah lainnya yang menimbulkan karakter yang berbeda-beda.

Dengan tulisan, segala sesuatunya dapat diubah. Bagi Maria, tulisan dapat menjadi penghibur hatinya yang lara sekaligus mengubah dirinya berpandangan lebih positif dalam menghadapi pergolakan kehidupan yang tiada henti selama menjalani kehidupan ini.

*) tulisan pengantar oleh Stevi Sundah, pendiri komTerga-Komunitas’e Penulis  Wonosobo. komTerga sebelumnya berbasis di Yogyakarta, namun karena beliau pindah ke Wonosobo akhirnya komTerga ikut diboyong.  komTerga terus bergerilya untuk memotivasi PRT di Wonosobo yang berbakat dalam dunia kepengarangan untuk terus menuangkan ide cerita dalam tulisan sehingga jadi sebuah buku.
* fan page komTerga: [http://www.facebook.com/komterga.wonosobo/info]
* dikenal juga dengan nama pena: ka’sYms.]

Perempuan Di Negeri Beton


Author : WiPerempuan di Negeri Betonna Karnie
Genre: Short story
First Publishing: April 2006
Short story guest: Hepi Andi Bastoni
Prolog: Gola Gong
Page: 158 hal.,
Press: Hanif Press

Pagi masih gelap. Angin dingin dari sisa malam menghembuskannya pada sebuah rintik pagi. Tak biasanya. Musim dingin selalu berkawan kering. Tapi bau tanah basah begitu menyengat. Kubuka seinci kelopak mataku, melirik ke samping pada benda yang selalu menjadi penjaga tidurku. Jam beker. Kembali kutarik selimut tebalku, usai mematikan alarm yang berdering kencang membuyarkan semua mimpi. 

Para malaikat bergegas turun meneriakkan panggilan suci, tapi para setan juga tak kalah lincah meninabobokkan orang-orang yang beriman lemah. Ketika ada suamiku di sebelah, ia biasanya akan mengecup keningku, menirukan suara adzan dan membisikkannya di telingaku.  Sesegera mungkin aku keluar dari selimut tipis, karena berada di sebelahnya sudah memberiku kehangatan lebih dari cukup. Suamiku akan menyusulku berwudhu dan bersamanya kutunaikan shalat Subuh berjamaah.

…  (bagian awal dari Bingkai Pagi)

 Jam, suara adzan dan selimut adalah tiga hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari seorang pekerja rumah tangga (PRT), terutama pekerja rumah tangga yang merantau ke negeri jauh yang terasing dari kehidupan keluarga. Ibarat tiga saudara kembar, ketiga hal ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka. Jika salah satu hal itu hilang atau terabaikan maka kehidupan mereka akan mengalami kejenuhan dan hilang kemudi.

Kisah yang terurai dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul Perempuan di negeri beton ini seakan ingin memberitahu kita tentang kehidupan dan gejolak emosi yang dihadapi oleh para buruh migran Indonesia (BMI) yang bekerja di luar negeri.

Buruh migran Indonesia yang bekerja di luar negeri harus mampu menyimpan dan mempertahankan jam, suara adzan dan selimut selama mereka bekerja. Mereka, para BMI, ini tidak boleh membiarkan budaya, majikan dan orang lain mengambil bekal mereka tersebut.

Bagaimana jadinya jika seorang buruh migran kehilangan salah satu dari ketiga hal tersebut ? Itulah yang coba disampaikan oleh Penulis kepada Pembaca. Dengan bahasanya yang sederhana dan mengalir lancar, Penulis tidak ingin sungkan-sungkan memberitahukan kepada Pembaca bahwa banyak hal dapat terjadi pada diri seorang buruh migran dan Penulis tidak ingin memberatkan Pembaca dengan bahasa-bahasa simbolik dan nyastra yang memusingkan kepala. Penulis hanya ingin bercerita seputar kehidupan dirinya, diri kawannya dan diri orang-orang yang berada di dekatnya. Semua proses pengamatan inderawi yang dialami Penulis selama menjalankan proses sebagai seorang buruh migran Indonesia berusaha disampaikan Penulis kepada Pembaca yang ingin mengetahuinya.

Penulis yakin bahwa banyak orang yang ingin mengetahui dunia teman-teman seprofesinya dan Penulis juga ingin mengatakan bahwa sebenarnya berita-berita dan kejadian yang menimpa beberapa teman seprofesinya tidaklah seperti apa yang mereka lihat dan baca. Semua kejadian itu adalah akumulasi dari proses kejadian yang dialami oleh para pekerja rumah tangga yang menjadi buruh migran di luar Indonesia, khususnya Hongkong dalam hal ini.

Victoria Park itulah tempat dari semua tempat yang dapat memberi kisah dan kesaksian kepada Pembaca tentang dunia buruh migran yang bekerja di negara Hongkong. Jika Victoria Park itu adalah seorang Penulis yang cantik tentu dia sudah dapat bertutur kepada kita tentang perjalanan hidup dari hampir 100.000 perempuan Indonesia yang berprofesi sebagai buruh migran atau bahasa kerennya domestic worker. Victoria Park menjadi saksi mati dari kehidupan orang-orang Indonesia yang terlempar ke negeri asing demi sesuap nasi dan berkelit dengan kehidupan yang semakin liar menggerogoti dunia mereka.

Lantai di Victoria Park hampir semuanya bersemen, kecuali lapangan rumput yang dibiarkan menghijau alami. Tidak seperti tiga tahun lalu, sebelum direnovasi, banyak rerumputan menghampar. Pekerja Migran Indonesia yang sebagian besar menjadikan Victoria Park sebagai “kampus” tak seleluasa dulu. Mereka tak lagi bergerombol di bawah pohon-pohon yang lebat dan rindang. Para penjual ilegal yang berdagang nasi atau majalah dan kartu telepon juga makanan kecil itu selalu terancam oleh petugas. Bahkan banyak dari mereka yang tertangkap basah. …

Petikan dari cerita pendek yang berjudul Perempuan Dalam Beton memberitahu Pembaca bahwa inilah taman eden bagi buruh migran Indonesia yang bekerja di Hongkong. Kini, lambat laun, taman eden itu berganti menjadi tempat perdagangan ilegal bagi perempuan Indonesia. Wajah taman itu berubah dan berganti-ganti seturut penghuni yang menginjakkan kaki dan menduduki hamparan permadaninya. Taman itu kadang menghijau, membiru, menguning bahkan mungkin layu sebelum berkembang.

Wina Karnie, sebagai Penulis yang juga buruh migran Indonesia yang bekerja di Hongkong merasa prihatin melihat hal ini. Dengan bekal jam (disiplin diri), suara adzan (panggilan untuk menghadap Tuhan) dan selimut (kehangatan keluarga dan orang-orang yang dekat di hatinya) yang masih dapat dipertahankannya hingga sekarang, Wina Karnie berusaha menjadikan kisah ini sebagai referensi bagi kaum perempuan seprofesinya atau perempuan lain di negara Indonesia yang ingin mencoba bertaruh dengan keras lembutnya kehidupan Hongkong, negara seribu satu cinta. Cinta mudah didapatkan di Hongkong dan cinta juga mudah dilepaskan di negara ini. Cinta dapat menjadi benci yang sewaktu-waktu mengoyak dan mencuri bekal yang dibawa sejak dari Indonesia. Kehilangan cinta, keterasingan diri, keterpurukan hidup dan kejenuhan iman membuat kita menjadi tidak mengenali diri sendiri.

Wina Karnie bukanlah perempuan biasa tapi perempuan dalam beton. Himpitan-himpitan dan kesukaran hidup yang dialaminya selama di negara Hongkong tidak membuatnya jerah dan menyerah. Ia tetap mempertahankan bekal hidup yang dibawanya sejak dari Indonesia. Budaya, majikan dan orang lain tidak mampu menundukkannya. Ia lemah tapi ia merupakan perpaduan dari air dan semen, sehingga godaan dan ujian dunia tidak mampu menghancurkan beton yang diciptakannya selain dia sendiri yang menghancurkan betonnya dan beton-beton lain yang ingin merampok bekal hidupnya.

“Saya pernah terlibat dalam workshop penulisan di Hong Kong sebagai moderator bersama Asma Nadia di Islamic Union Wan Chai pada Juni 2005, workshop penulisan cerpen dan esai bersama Kuswinarto dan Bonari Nabonenar di Hong Kong City University pada Juli 2005. Saya juga sempat mendampingi Helvy Tiana Rosa dalam Workshop Kiat Penulisan Fiksi di Hong Kong City University pada September 2005. Nama Wina Karnie (baca : saya) juga ada di antara antologi kisah (non fiksi) bersama Asma Nadia dan kawan-kawan dengan judul Galz Please Don’t Cry, keluaran Lingkar Pena Publishing yang terbit Februari 2006,” ujarnya dalam buku Perempuan di Negeri Beton ini.

Kumpulan cerita pendek ini layak dibaca oleh siapa saja, baik itu kaum akademis, wanita karier, sastrawan, kritikus, budayawan yang mungkin pernah menjadi majikan maupun babu, pekerja rumah tangga, pelayan, calon TKW (tenaga kerja wanita) yang mungkin berprofesi sebagai dosen, penulis, pedagang dan atau aktifis perempuan. Dua belas cerita pendek yang ditulis oleh Wina Karnie sangatlah menarik untuk menambah referensi bagi Pembaca karena angka-angka statistik dan berita-berita seputar pemerkosaan, pelecehan dan penindasan kaum perempuan, khususnya pekerja rumah tangga yang sering kita jumpai di surat kabar, televisi dan radio menjadi hidup dalam cerita pendek ini. Wina mencoba memberi kesaksian dari kisah yang pernah dihadapinya sendiri maupun kisah yang dihadapi oleh teman-teman seprofesinya sehingga Pembaca merasa tidak asing dengan dunia para babu dan perempuan Indonesia yang rela menjadi babu demi menafkahi keluarga juga tidak asing tatkala kembali ke negeri tercinta yang selalu mereka rindukan selama dalam pengasingan dan perantauannya.

Cerita pendek yang berjumlah 158 halaman dan diterbitkan oleh Hanif Press ini bertutur dengan menggunakan bahasa Jawa, Inggris, Kantonese yang diselakan antara bahasa Indonesia yang baku. Walaupun di sisi lain ditentang oleh kaum akademis dan beberapa sastrawan terkemuka tapi hal ini justeru memudahkan Pembaca untuk menghayati bahasa sederhana yang disampaikan oleh salah seorang babu yang menjadi Penulis. Babu jadi penulis ? Tanyaken apa!

Peresensi Stevi Sundah adalah penulis yang mengelolah RB. Istana Rumbia di Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia. Peresensi juga dikenal dengan nama pena: Ka’sYms.

Sumber : Buku “Perempuan Di Negeri Beton” yang dikirim langsung ke peresensi.


Keluhuran Perempuan


Perempuan Yang Mengawini KerisJudul Buku : Perempuan yang Mengawini Keris
Penulis : Wayan Sunarta
Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : xiv + 152 halaman

Perempuan memang merupakan sosok yang indah untuk dijadikan imajinasi positif dalam berkarya. Model, aktris, dan lain sebagainya menjadi menarik ketika perempuan menjadi pemeran dalam bidangnya tersebut. Termasuk pula dalam karya sastra yang mengangkat penokohan perempuan menjadi cerita-cerita. Tentunya, perempuan menjadi daya tarik bagi para penikmat karya imajinasi yang positif tersebut.

Sebagaimana Wayan Sunarta dalam antologinya yang berjudul “Perempuan yang Mengawini Keris”, di mana cerita-ceritanya menampilkan tokoh perempuan, baik sebagai pemeran utama, pemeran pembantu, ataupun sesosok tokoh imajinasi yang memosisikan perempuan ke dalam tempat yang luhur. Perempuan dalam berbagai cerita sastra yang diposisikan ke dalam berbagai kondisi oleh penulisnya tersebut, benar-benar menjadikan perempuan sebagai sosok yang memang luar biasa.

Setidaknya, banyak pesan moral yang bisa diambil dari penokohan perempuan tersebut. Perempuan dalam cerita-cerita sastra tersebut menempati berbagai peran dan posisi. Sebagaimana yang tertuang dalam cerita yang berjudul “Perempuan yang Mengawini Keris”, seorang perempuan Bali telah menampakkan ketegarannya dalam cerita percintaan. Ia dikhianati oleh kekasihnya ketika hari pesta pernikahannya yang besar-besaran dilangsungkan. Demi menjaga martabat dan harga diri orangtuanya dari gunjingan negatif masyarakat, sosok perempuan dalam cerita tersebut rela menikah dengan sebilah keris.

Lain halnya dengan penokohan perempuan di dalam cerita yang berjudul “Aku Membeli Nyawaku”, penokohan perempuan ditampilkan sebagai sosok yang tangguh dalam menanggung pekerjaan amoralitasnya sebagai pelacur hanya untuk menghidupi dirinya sendiri dan untuk mengobati penyakitnya yang diderita. Sebuah alasan pekerjaan amoral yang dilakukan oleh sosok perempuan tersebut adalah hanya tidak ingin merepotkan kekasihnya. Ia menginginkan cinta dari kekasihnya, akan tetapi tidak mau membebani kekasihnya untuk menanggung biaya penyembuhan penyakit yang mematikannya itu.

Sementara penokohan perempuan dalam cerita “Patung Perjalanan Perempuan”, sosok perempuan tidak dihadirkan dalam peran, akan tetapi sebagai inspirasi bagi seorang pemahat yang menjadi suaminya. Perempuan yang telah dulu pergi ke alam baka itu, menjadi inspirator bagi seorang pemahat (suaminya) untuk membuat patung kayu perempuan yang dicintainya itu. Hingga pada akhirnya, sang pemahat pun menyusul perempuan tersebut ke alam baka setelah menyelesaikan pahatan patung kayu perempuan yang menjadi kekasihnya itu.

Di lain cerita yang berjudul “Rastiti”, penokohan perempuan ditampilkan sebagai seorang istri yang ingin membahagiakan suaminya. Setelah diklaim oleh dokter sebagai perempuan yang kurang subur dan kesulitan untuk memberikan anak setelah beberapa tahun menikah dengan suaminya, ia rela berbohong demi kebahagiaan suaminya. Ia rela mengaku hamil kepada suaminya, padahal sebenarnya ia hanya berbohong. Namun demikian, apapun akan ia lakukan demi kebahagiaan sang suami yang sangat ingin memiliki keturunan.

Melompat pada cerita yang berjudul “Balada Sang Putri Di Gubuk Hamba”, seorang perempuan ditampilkan dengan peran yang bergaya keluh kesah. Meski demikian, ia adalah seorang jelita yang dikagumi oleh seseorang (laki-laki) yang menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut.

Cerita-cerita tentang perempuan juga hadir dalam judul-judul lainnya dalam antologi tersebut. Penokohan perempuan memang tidak sekadar kekayaan imajinasi penulis, akan tetapi lebih dari itu juga keluhuran kaum perempuan yang dijunjung sebagai figur yang memberikan inspirasi. Yang paling penting dalam karya sastra tersebut, tidak hanya menyajikan gaya bahasa yang indah dan sarat akan nilai sastra yang tinggi, akan tetapi juga pesan yang bisa diambil dari karya tersebut.

Hal itu tertuang dalam buku antologi ini, di mana pesan-pesan moral dan hikmahnya mengiringi setiap keindahan sastranya. Terutama, penokohan perempuan yang sesuai dengan tren feminisme, meskipun sebenarnya karya sastra tersebut tidak terfokus pada pemahaman feminisme.

Akhirnya, dengan membaca buku yang berjudul “Perempuan yang Mengawini Keris” tersebut, para pembaca diajak untuk menyelami keindahan karya sastra berupa cerita-cerita pendek yang sarat akan pesan-pesan moral. Meski demikian, cerita-cerita tersebut sebenarnya tidak melulu menokohkan perempuan, akan tetapi juga kearifan lokal, budaya, dan eksotisme tradisionalitas. Dengan demikian, pesan-pesan dari antologi cerita tersebut menjadi lebih bervariasi dan lebih beragam, tidak hanya dari penokohan perempuan.

Peresensi Supriyadi adalah pengamat sosial pada Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta, Alamat: Asrama Sakan Thullab Yayasan Ali Maksum PP. Krapyak Jl. K.H. Ali Maksum PO Box 1192 Krapyak Yogyakarta 55011

Perempuan dan Pengabdian Sastra


Oleh: Bandung Mawardi

KEMISKINAN tak memupus gairah literasi. Makna diri sebagai perempuan tak meruntuhkan etos sastra. Kehadiran diri sebagai pengisah hidup justru membuat pengabdian sastra mirip takdir. Luka, airmata, doa, keringat, mimpi, lelah, sesalan memang melumuri diri tapi memberi basis mentalitas untuk bersetia mengolah kisah. Hidup pun bertaburan kisah dan bergelimang makna.

Ichiyo menjelang kematian menulis alinea getir dalam buku hariannya: ”Beritahu aku ke mana aku akan pergi. Apa yang ada di hadapanku. Aku terbangun tiap malam, bingung dan resah. Sekarang, bahkan aku takut untuk tidur, kalau-kalau aku tak pernah terbangun lagi untuk melihat matahari terbit.” Kalimat-kalimat itu dituliskan oleh perempuan rapuh saat menanggung sakit akut tuberkulosis. Perempuan di usia 24 tahun merasai detik-detik keberakhirannya.

Hidup memang selesai. Ichiyo pun mati (23 November 1896) dengan mewariskan novel-novel kondang untuk sejarah sastra Jepang. Pengarang ini menjelma ikon pengabdian sastra di abad XIX saat jagat sastra mulai mengakui makna kehadiran perempuan di sebuah zaman diskriminatif.

Kematian tubuh tak mengharuskan kematian kata dan imajinasi. Novel-novel gubahan Ichiyo terus menapaki sejarah selama ratusan tahun. Imajinasi kekal melampaui keselesaian tubuh. Ichiyo memberi diri dalam cerita Pengabdian sastra menguak heroisme meladeni kemiskinan, bara asmara, komersialitas, popularitas.

Ichiyo adalah biograf kehilangan dan pencarian. Keinsafan diri dan kesanggupan menekuni olah sastra menguatkan kehendak sebagai pengisah. Biografi itu diakui oleh Jepang dengan penghormatan wajah Ichiyo diabadikan di lembaran uang kertas 5000 yen. Ichiyo mengabadi bersama ingatan-ingatan atas kisah hidup dan suguhan novel.

Penghormatan itu seolah membuktikan ramalan Kuniko. Perempuan ini mengabdikan diri selaku adik untuk kerja literas Ichiyo. Kuniko meladeni dan merawat Ichiyo demi semaian gairah literasi. Kuniko saat bocah mengucap doa bahwa Ichiyo kelak terkenal dan lepas dari jeratan kemiskinan. Doa ini terucap di masa Ichiyo masih belia. Ichiyo memang sejak mula menggandrung buku: nafsu membaca. Situasi sastra itu turut terbentuk oleh obsesi si bapak: menghendak Ichiyo menjadi pengarang kondang. Si bapak kerap membuat acara sastra di rumah dan mengantarkan Ichiyo mengalami candu buku. Ichiyo mengalami itu tanpa keterpaksaan. Gairah dan ketakjuban terus menuntun Ichiyo memeluk ìimanî sastra sampai di ujung kehidupan.

Selengkapnya baca: Perempuan dan Pengabdian Sastra

Menelusuri Akar Kematian Kritik Sastra Indonesia Dalam Matinya Dunia Sastra


: BIOGRAFI PEMIKIRAN DAN CATATAN TERBERAI KARYA SASTRA INDONESIA
KARYA ACEP IWAN SAIDI
Oleh: Baban Banita

Betulkah dunia kritik sastra Indonesia telah mati?

Pertanyaan ini sebenarnya telah cukup lama menjadi sebuah wacana dalam dunia kesusastraan Indonesia. Namun, tidak cukup banyak orang yang memperhatikan hal ini, juga perdebatan-perdebatan yang muncul darinya. Acep Iwan Saidi adalah termasuk dalam orang yang sedikit itu. Dia menyodorkan sebuah buku ke hadapan kita judul Matinya Dunia Sastra : Biografi Pemikiran dan Tatapan Terberai Karya Sastra Indonesia, yang merupakan kumpulan esai (22 buah tulisan), pemikiran-pemikiran Saidi di Dunia sastra Indonesia.

Sebelum masuk kepada 22 tulisan, Saidi terlebih dahulu memberikan semacam pendahuluan. Di situ dia menyoaldudukan bagaimana posisi penulis dalam hubungannya dengan sebuah pendapat yang dilontarkan ahli semiotik Roland Barthes yang menyebutkan bahwa pengarang telah mati. Dalam hubungannya dengan konteks dunia sastra Indonesia, menurut Saidi hal itu tidak sepenuhnya bisa berlaku. Justru dalam masyarakat sastra Indonesia berlaku sebaliknya, penulis tidak pernah mati. Pengarang telah menjadi pusat, bahkan lebih penting dari teks itu sendiri. Hal ini dibuktikan misalnya, ketika meninjau tulisan yang berada di media massa, umumnya bahkan nyaris meninggalkan teks. Dalam menafsirkan sebuah teks prosa atau puisi, si penganalisisis akan menyebut ideologi pengarang, bukan ideology narrator atau aku lirik. Sebagai contoh lain, dia mengilustrasikan sebuah seminar yang akan ramai dipadati peserta apabila pembicaranya adalah tokoh yang telah bernama. Jadi bukan karena tulisannya peserta datang tapi disebabkan oleh keberadaan penulisnya.

Dalam hal ini, justru teks bisa menjadi tidak penting bahkan bisa ditinggalkannya. Hal di atas, menurut Saidi, terjadi kelisanan masyarakat Indonesia masih sangat kental. Dia mengutip pendapat Bambang Sugiharto, bahwa tradisi kelisanan ini memberidua turunan yang sangat signifikan, yaitu kesenangan pada kerumunan dan ketidakbiasaan menerima kritik.

Argumentasi ini memang cukup sahih, tetapi rupanya Saidi agaknya lupa bahwa tradisi lisan dalam sastra Indonesia sesungguhnya telah melupakan pengarang atau mungkin penuturnya. Tengoklah misalnya cerita Si Kabayan, Pak Belalang, Joko Bodo, dll. sampai sekarang tidak pernah diketahui siapa pengarangnya. Bukankah pengarang telah mati dalam tradisi ini, apakah ini sebuah pengecualian? Selanjutnya, hal ini sebagai paradoks atau tradisi lisan, bahwa dalam konteks masyarakat yang tradisi tulisnya bagus, dapat dikatakan para pengarang itu telah mati. Yang tersisa darinya adalah teks itu sendiri, teks yang menjadi segala-galanya. Tapi dalam hal ini, Saidi tidak membeberkan lebih lanjut dan dalam, mengapa pada masyarakat yang tradisi tulisnya bagus pengarang bisa dikatakan telah mati. Buku ini terdiri atas dua bagian. Bagian pertama memakai subjudul Dunia Sastra yang Menggelisahkan dan yang kedua dengan subjudul Tatapan Terberai Atas Sejumlah Karya Sastra.

Pada bagian pertama terdiri atas tiga tulisan. Tulisan-tulisan pada bagian ini berisi semacam otobiografi pengarang. Disebut semacam otobiografi, karena menurut penulisnya, hal itu kenyataannya bukan otobiografi. Memang di dalamnya mengungkapkan sebuah riwayat, kisah tanah kelahiran, selintas soal keluarga, dan sekolah. Alasan dimasukkannya tulisan ini ternyata masih berhubungan dengan pernyataan bahwa pengarang di Indonesia belum mati, artinya betapa penting konteks kepenulisan di dalam masyarakat sastra Indonesia. Menurut Saidi, mempelajari pemikiran seorang penulis tidak cukup dengan apa yang ditulisnya, tapi akan lebih baik jika mempelajari juga latar belakang mengapa penulis bersangkutan menulis hal itu.

Dengan kata lain, biografi penulis, sejauh mendukung gagasan yang ditulisnya, menjadi penting sebagai aspek referensial. Sesungguhnya pada bagian satu inilah pusat terbersitnya apa yang tertulis pada judul buku yang cukup menghenyakan ini, Matinya Dunia Sastra. Di bagian ini, ketiga tulisan bisa dikatakan berkesinambungan secara langsung sebagai perkembangan dari tema dunia sastra (kritik) yang mengalami kemerosotan atau kematian.

Mula-mula Saidi berkisah latar belakang bahwa latar belakang dirinya yang secara geografis dan budaya terbelakang, mempengaruhi perjalanan terhadap pemilihan jalan hidup. Dia menyodorkan kisah kampung halamannya (Uwak Ajengan) yang begitu rajin tentang tema-tema yang berhubungan dengan agama tanpa memerhitungkan (memedulikan) apakah tulisan itu akan dimuat di media massa, sebab kenyataannya tokoh itu menulis sesuai dengan keyakinannya dan begitu besar kepercayannya pada teks. Hal inilah barangkali yang menjadi spirit hidup Saidi untuk terus konsisiten berdekatan dan melakukan pekerjaan menulis. Tulisan kedua yang berjudul Memaknai Sekolah Menuai Gelisah, sesungguhnya adalah pusat kegelisahan Saidi tentang mengapa kritik sastra di Indonesia seperti tersendat-sendat atau dikatakannya nyaris mati. Dia mengungkapkan pengalamannya ketika dirinya berada di lingkungan akademik sebagai mahasisiwa di fakultas sastra. Menurutnya fakultas sastra sebagai lembaga resmi yang bergelut di bidang sastra harus bertanggung jawab atas perkembangan dunia sastra di Indonesia. Dia memang hanya mengambil contoh di kampusnya sendiri. Di sini terkesan menyamaratakan bahwa fakultas yang berurusan dengan sastra adalah seperti yang ada dalam pikirannya, seperti yang ada di kampusnya ketika dirinya kuliah. Dia mempertanyakan kembali fungsi fakultas sastra, apakah sebagai pencetak sastrawan atau pencetak ahli sastra. Timbulnya pertanyaan ini didasari atas pengalaman dan pengamatannya, bahwa selama ini fakultas sastra sangat jarang menghasilkan alumni yang mumpuni di bidangnya. Dalam hal ini Saidi memberikan contoh betapa mengecewakannya pelajaran yang didapatkan selama dirinya kuliah, jangankan mutunya bahkan sekedar mencari motivasi dalam mencintai dunia sastra tak didapatkannya. Justru dari dunia luar dia mendapatkan motivasi kesastraan sehinggga dirinya menjadi rajin dan begitu mencintai dunia sastra. Dia juga mengkritisi dunia akademik yang dalam melakukan analisis terhadap sastra begitu kaku (kering) sehingga hasilnya tampak mengambang atau tidak membumi. Hanya sekedar membedah dan memisah-misahkan satu bagian dari bagian lain, seperti layaknya pembedahan terhadap tubuh manusia yang biasa dilakukan dalam dunia kedokteran.

Lebih jauh dia berpendapat bahwa penyajian dan perlakuan dosen yang tidak menarik menjadi salah satu alasan mengapa mahasiswa sastra tidak tertarik pada dunia sastra, yang pada gilirannya dunia sastra ditinggalkan anaknya sendiri, sepi dari karya, sepi dari kritik akademikus sastra. Rupanya di sinilah akar mula kematian kritik sastra, yaitu pada tidak berfungsinya dunia akademik yang secara ideal seharusnnya memproduksi kritikus-kritikus handal. Hal di atas sejalan dengan pikiran Sumardjo yang memberi kata pengantar dalam
buku ini. Dia memberi argumentasi tentang mengapa sastrawan dan kritikus yang berwibawa tidak muncul di kampus. Menurut Sumardjo, tidak lahir sastrawan dari kampus karena tidak ada program kesastrawanan, sedangkan kritikus dari kampus, menurutnya ada, jika yang dimaksud adalah kritikus intelek artificial yang merupakan pengikut setia dewa-dewa teori dari kebudayaan seberang yang tidak berani mengatasnamakan pikirannya sendiri.

Sebuah tamparan yang cukup telak dan sangat perlu mendapat tanggapan dari para akademisi sastra. Betulkah demikian adanya?

Tulisan ketiga berisi peranan media massa dalam dunia sastra, sekaligus juga semacam jawaban atas tulisan-tulisan sebelumnya yang menyangkut kematian kritik sastra. Menurutnya kritikus sastra mau tidak mau harus berkenalan dengan media massa. Dan mahasiswa sastra yang konon akan dicetak menjdai kritikus sastra, tidak bisa menghindar dari kebutuhan menulis di media.

Sebelum sampai kepada pentingnya media massa dalam perkembangan sastra, Saidi terlebih dahulu mengemukakan pendapatnya bahwa media massa sekarang telah melenceng dari komitmen awal keberadaannya, yakni sebagai sartana perjuangan dan pendidikan. Menurutnya, media massa lebih berpihak kepada industri, kepada para pemilik modal. Karena itu yang lebih dipentingkan adalah bagaimana media massa itu laku dan menghasilkan untung sebesar-besarnya. Tidak mengherankan jika yang dijadikan berita adalah mengelola isu-isu yang bisa dinikmati dan dilahap masyarakat kita yang memang lapar. Termasuk di dalamnya adalah dunia sastra. Dalam kaitannya dengan melempemnya atau matinya kritik sastra, Saidi memberikan solusi yang cukup cerdas, yakni dengan melihat sejarah perkembangan kritik sastra di Indonesia. Rupanya dia tengah bersetuju dengan apa yang dilontarkan Bung Karno tentang Jasmerahnya, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dia memberi contoh keberadaan H.B.Jassin yang menjadi kritikus sastra yang sangat punya pengaruh besar terhadap perkembangan sastra Indonesia. Penulis yang kini mengajar di Seni Rupa ITB ini tidak menganalis apa yang ditulis Jassin secara mendalam, tetapi dia mengemukakan perjalanan mengapa Jassin sebagai kritikus begitu kuat dan berpengaruh pada zamannya. Menurutnya kekuatan Jassin adalah keberadaannya sebagai seorang redaktur media massa. Dengan posisi seperti itu, maka tulisan-tulisannya tentang kritik sastra mendapat tempat yang tak tergoyahkan dan sulit untuk dibendung. Dia juga memberi contoh lain, yaitu Saini K.M. yang pernah mengasuh rubric Pertemuan Kecil di Pikiran Rakyat Bandung, yang dengan posisinya bisa mengangkat beberapa penyair di arena sastra Indonesia semisal Soni Farid, Acep Zamzam, Juniarso Ridwan dll., meski tidak seperti Jassin yang berhasil memenarakan Chairil Anwar. Perbedaan keberhasilan ini menurut Saidi disebabkan oleh Jassin yang menjadi redaktur adalah seorang kritikus sedangkan Saini K.M. adalah seorang sastrawan.

Untuk yang terakhir ini, sekarang sangat marak di media massa Indonesia, para penjaga gawang untuk sastra kebanyakan adalah para sastrawan bukan para kritikus. Karena itu tidak mengherankan yang berkembang adalah puisi dan cerpen yang tidak diimbangi oleh perkembangan kritiknya.

Selengkapnya baca di: KEMATIAN KRITIK SASTRA INDONESIA.

Apakah Bahasa Indonesia “Seksis”?


oleh Katrin Bandel

Kalau kita perhatikan beberapa trend dalam penggunaan bahasa Indonesia akhir-akhir ini, timbul kesan bahwa bahasa Indonesia mempunyai persoalan dengan gender. Berbagai istilah “khusus perempuan” bermunculan, misalnya istilah sejenis “perempuan pengarang” atau kata-kata dengan akhiran “-wati”; saya bahkan pernah mendengar pengumuman dari loudspeaker sebuah masjid dekat rumah saya yang mengajak para “santri dan santriwati” untuk menghadiri sebuah pengajian. Fenomena apakah ini? Secara sekilas, euforia pembentukan berbagai istilah baru untuk merujuk pada perempuan dalam berbagai profesi dan kegiatan ini mirip dengan politik bahasa yang dilakukan para feminis di negara-negara Barat. Apakah bahasa Indonesia bersifat seksis sehingga berbagai perubahan untuk menghilangkan bias gender perlu diadakan? Dan apakah  kecenderungan baru ini memang berhasil menghapus atau melawan seksisme?

Di negara-negara Barat politik bahasa adalah sebuah persoalan yang sangat penting bagi gerakan perempuan – sebuah persoalan rumit yang sampai saat ini sering menimbulkan perdebatan. Sebagai contoh saya akan menggambarkan situasi di negara asal saya, yaitu Jerman. Dalam bahasa Jerman, gender merupakan salah satu kategori gramatikal yang utama, dan karena itu tidak terelakkan dalam penggunaan bahasa. Setiap kata-benda memiliki gender atau “genus” yang ditandai oleh artikel di depan kata itu: “der” (maskulin), “die” (feminin) atau “das” (netral). Meskipun demikian akan agak berlebihan kalau kita menyimpulkan bahwa orang Jerman membayangkan setiap kata-benda sebagai sesuatu yang “berkelamin”. Kata “die Sonne” (matahari) misalnya bergenus feminin, sedang “der Tisch” (meja) bergenus maskulin, tapi dalam menggunakan kata dengan artikelnya itu orang tidak membayangkan “matahari” sebagai sesuatu yang memiliki sifat feminin dan “meja” sebagai sesuatu yang bersifat maskulin. Genus itu sekedar menjadi bagian dari tata-bahasa (grammar).

Namun khususnya pada kata-benda yang merujuk pada manusia, genus biasanya sesuai dengan gender manusia yang dibicarakan: feminin (artikel “die”) untuk perempuan, maskulin (artikel “der”) untuk laki-laki. Karena itu, misalnya, banyak kata-benda yang dalam bahasa Indonesia hanya satu bentuk, dalam bahasa Jerman memiliki dua bentuk, tergantung gendernya: Kata “dokter” misalnya diterjemahkan “der Arzt” kalau sang dokter itu laki-laki, dan “die Ärztin” kalau dia perempuan. Dalam bentuk plural pun perbedaan gender itu tetap ada: “die Ärzte” berarti “para dokter laki-laki”, dan “die Ärztinnen” berarti “para dokter perempuan”.

Selengkapnya baca : Jurnal Boemiputra.

Biodata Penulis



Narasi Biodata Penulis

- Penulis lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur. Nama aslinya berinisial sYms. Sering dipanggil Ka’ sYms. Pria kelahiran 1977 dan keturunan suku Minahasa ini, gemar menulis sejak SD. Pertama kali menulis tentang keindahan bawah laut. Cerpen ”Pangeran Kecilku” pernah dimuat dalam Pikiran Rakyat (Jawa Barat). Cerpen ”Kara Setra” pernah dimuat di tabloid Taman Plaza-Wonosobo. ”Selasar Rindu Anak Lingsar” ikut dalam buku “Indonesia Memahami Khalil Gibran” (BPPI-Jakarta, 2011). Lima buah cerpennya dimuat dalam buku ”Sebuah Nama Yang Terlupa” (Leutika Prio-Yogyakarta, 2011). Buku ”Kebahagiaan Sejati” memuat cerpen ”Kitab Rindu” (Super Media Publisher, 2011). Cerpen ”Menggantung air mata” di buku Lelaki Beraroma Ayah (Hasfa Publisher, 2011). Kumpulan puisinya ada di buku ”Jalan Setapak #1” (2010). Cerpen ”Batas Pagar” ikut serta dimuat di Jantung Hati Borobudur (BPPI-Jakarta,2012).

Yang paling heboh, di alas kontrak dan di atas motor, inspirator rumah baca di Wonosobo ini, kerap melantunkan syair. Setelah sering mengikuti sholawat bersama Habis Syekh, Mashambal juga termotivasi untuk jadi Syekher.

Sebagai Ka.Ops. KomTerGa Wonosobo, ia selalu mengingatkan kepada para perempuan yang ingin bekerja di luar negeri untuk membaca kontrak kerja dan mengerti isinya terlebih dulu sebelum  menandatangani kontrak kerja (MoU).

Suka bersahabat, bisa twitter-an @mashambal.

Narasi Biodata featured:

-Tania Rooz, nama pena dari Tania Roosandini. Penulis kelahiran Malang, Jawa Timur ini sedang menjalani kontrak kerja di Taiwan setelah menyelesaikan kontrak kerja di Hong Kong. Sebagai pekerja perempuan migran yang bekerja di sektor rumah tangga, Tania masih sempat bekerja sebagai jurnalis di Berita Indonesia, Ltd. -Hong Kong. Tulisan-tulisan, baik cerpen maupun artikel banyak dimuat di koran dan majalah. Pernah mengisi kolom luar negeri di majalah Liberty.

Perkenalan lebih lanjut dapat kontak Penulis di : tnroos@yahoo.com (e/f)

—]

Menulis Di Atas Toilet


Pernah melihat toilet aneh?

Klik gambar #toilet aneh#

Aku menulis di atas toilet karena ingin mencari penerangan yang cukup dari lampu toilet. Di samping itu, dengan menulis di toilet yang jaraknya agak jauh dari kamar nenek, aku dapat mendengarkan musik dari media player yang tersimpan di laptop dan terbebaskan dari jerat cemburu sosial si nenek yang tidak suka melihat pembantunya memegang kamera besar (sebutan si nenek untuk laptopku).

Aku pernah ketahuan menulis di kamar. Lampu kamar masih menyala ketika itu padahal jam di dinding masih menunjukan pukul 10 malam. Nenek punya kebiasaan tidur jam 7 atau jam 7.30 malam. Tanpa terduga nenek masuk ke dalam kamar secara diam-diam. Dia langsung mendelik dan menudingku.  Aku dituduh telah mencuri karena aku memakai laptop anaknya yang sedang berada di Canada. Majikan yang mengontrakku sebenarnya tinggal di Canada. Majikanku tiga atau empat bulan sekali pulang ke Hongkong. Hanya aku dan nenek (orang tuanya majikanku) yang berada di rumah.

Setelah memergoki aku, keesokan paginya aku melihat nenek sedang menelpon anaknya di Canada. Entah apa yang dibicarakan mereka. Sedikit aku dengar kalo nenek tidak suka melihat lampu kamarku tidak dimatikan ketika dia bangun di pagi hari dan menggunakan listrik untuk laptopan. Nenek menganggap aku begadang di malam hari. Nenek tidak tahu kalau laptop yang aku pakai selama ini adalah kepunyaanku yang aku dapat dari hasil honor tulisan-tulisanku.

Waktu nenek melaporkan perihal aku kepada anaknya, tak berapa lama  aku ditanya oleh majikanku itu. Majikanku tidak marah namun menegurku. Majikanku tidak ingin ibunya emosi dan tekanan darahnya naik. Nenek sudah berusia 87 tahun.  Aku tidak berani ngomong macam-macam ke majikan karena ngomong pun percuma. Selain majikan tidak melihat sendiri kejadiannya, majikan juga tidak memarahiku. Majikan hanya menyarankan kepadaku agar aku tidak membuat jengkel ibunya.

Majikanku yang di Canada mempersilahkan aku memakai listrik dan menulis asal tidak ketahuan nenek padahal siang hari sudah bisa dipastikan aku akan selalu bersama nenek dan aku hanya punya waktu malam hari ketika nenek sudah tidur. Aku pernah mencoba menulis di siang hari tapi ideku tidak muncul. Sesekali pernah menulis berita yang pendek-pendek di siang hari itupun sembunyi-sembunyi dan pekerjaan mengurus nenek telah selesai.

Aku menulis awalnya adalah sebagai bentuk pemberontakan dari keputusan sulit yang aku ambil. Aku termasuk pekerja yang dikebiri hak liburnya. Aku diberi tawaran oleh majikan. Tawaran pertama, kalau mau berlibur 7 hari sekali (sesuai peraturan di Hongkong), pekerjaan mengurus dua rumah akan dibebankan padaku padahal rumah yang satunya berpenghuni 6 orang ditambah 3 anjing. Rumah tersebut milik adik sang nenek. Tawaran kedua, bila aku mau libur dua minggu sekali, maka  aku hanya bekerja mengurus satu orang nenek. Hal yang sulit ini saya komunikasikan dengan suami termasuk sholat malam. Akhirnya aku lebih memilih menekan hari libur. Kalau badanku capek, tidak mungkin rasanya aku bisa menulis dan mengembangkan kreatifitasku.

Berbagai bentuk pemberontakan atas ketidakadilan terhadapku dan yang kerap aku jumpai di kalangan teman-temanku selalu mengalirkan energi baru untuk menulis esai dan cerita-cerita pendek. Cerita pendekku yang berjudul Suara Tembakan Di Waktu Subuh pernah dimuat di Berita Indonesia edisi september 2003 dan memenangkan lomba cerpen hari kemerdekaan RI yang diselenggarakan oleh KJRI dan Berita Indonesia. Cerita pendek yang ada dalam buku ini juga aku angkat dari kenyataan yang aku saksikan. Hanya dengan menulis aku dapat bersuara dan hanya dengan membaca cerita-cerita pendekku banyak orang tahu tentang kondisiku dan teman-temanku sebenarnya. [tR]

Senduk


Potret Perempuan Desa

Potret Perempuan Desa Yang Baru Pulang Dari Luar Negeri maupun Luar Kota – Indonesia

Entah! Siapa nama panjangnya atau nama yang sebenarnya. Yang aku tahu dan aku kenal sejak taman kanak-kanak dulu, orang-orang selalu memanggilnya Senduk. Termasuk aku juga memanggilnya demikian. Padahal yang aku tahu, senduk adalah nama ganti panggilan dari orang yang lebih tua pada  bocah perempuan di desa-desa tetapi Senduk yang satu ini memang mungkin bernama Senduk.

Senduk adalah teman sekolahku. Ia aku kenal sejak aku mulai masuk taman kanak-kanak. Walau kami berasal dari kampung yang berbeda, kami masih dalam naungan kelurahan yang sama. Usiaku dengannya hampir sepantaran. Yang membedakannya hanya tanggal dan bulannya saja. Aku dan Senduk berteman hingga sekolah lanjut namun di tahun kedua sekolah lanjut, Senduk harus berhenti sekolah karena orang tuanya yang menjual tape keliling dari kampung ke kampung mengaku tidak kuat membayar uang sekolahnya.

Aku ingat karena bu guru wali kelasku waktu itu meminta aku untuk merayu Senduk agar mau kembali bersekolah namun rayuanku gagal sebab dari mulut bapaknya sendiri aku mendengar kalau Senduk tidak perlu sekolah. Alasannya anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Tidak ada gunanya. Paling-paling juga akan menikah dan beranak. Sebagai gantinya, Senduk akan dipondokan saja di pondok pesantrennya Kyai Manan yang berada di desa sebelah dengan alasan untuk belajar mengaji tidak dikenai bayaran. Selain itu, sambil menunggu Senduk akil balik lalu dia akan segera dinikahkan.

Kini usia kami sudah sama-sama dewasa. Aku sudah tiga puluh tahunan. Demikian pula dengan Senduk. Anehnya aku tidak tahu lagi kabar Senduk sekarang sebab setelah Senduk mulai masuk pesantren setahun kemudian aku mendengar dia dinikahkan dengan anaknya Kyai Manan. Menurut bapaknya, Senduk adalah murid kyai yang berparas ayu dan pinter mengaji.

”Lah, bener to Nduk apa yang Bapak bilang? Perempuan itu tempatnya di dapur dan meladeni suami. Jadi kenapa harus sekolah tinggi-tinggi!!” ujar bapaknya suatu hari saat aku disuruh ibu ke rumahnya Senduk untuk membeli tape.

Senja ini langit sangat cerah. Dengan sinar jingganya, semburat memayungi Victoria dan jagat raya lainnya. Aku berjalan tergesa menyalib beberapa orang yang berjalan lenggak-lenggok di sela canda riangnya. Sementara panggilan lewat hape terus menerus menanyakan posisiku. Sengaja aku tidak mau mengangkat panggilan tersebut. Bicara sambil berteriakpun rasanya suara ini tenggelam ditimpa hiruk pikuk suasana Victoria. Yang aku lakukan hanya mempercepat langkahku saja namun ketergesaanku mau tidak mau kini harus aku hentikan sebab ekor mataku menangkap  seraut wajah ayu yang dulu pernah aku kenal. Namun dimana? tanyaku membatin. Aku mencoba memperhatikan lebih seksama dengan tidak percaya. Wajah ayu itu menurutku tidak bertambah ayu dengan sapuan polesan wajah yang tebal. Rok mini jean sepantat dipadu sepatu bot selutut serta kaos model kemben membalut tubuhnya yang memang ramping dan semlohe sementara di hadapannya ada laki-laki dari kebangsaan Paman Sam yang melingkarkan tangannya dengan ketat di pinggang ramping wanita tersebut.

Terlintas segera sebuah nama yang telah sekian tahun aku lupakan. Antara percaya dan tidak bahwa wanita paruh baya yang berpenampilan ala remaja 16 tahunan itu adalah Senduk. Aku ingin menyapanya namun segera aku urungkan sebab bukankah Senduk sudah menjadi ibu nyai di kampung? Senduk yang menantu Kyai Manan itu sekarang pasti sudah menjadi guru mengaji di pondokan Kyai Manan. Mereka pasti sedang hidup berbahagia sambil menabung bunga-bunga surga bersama suaminya. Tentu saja Senduk tidak mungkin tersasar ke Hongkong. Seandainya pun ia ke Hongkong, tentu busana yang dikenakannya tidaklah akan seseronok wanita yang ada di hadapanku ini.

Kembali teleponku berdering hingga membuatku harus melupakan sejenak wajah perempuan di hadapanku ini dengan wajah Senduk yang dulu pernah aku kenal.

****

Minggu pagi ini, masih seperti minggu-minggu kemarin. Cuaca yang cukup panas membuat siapa saja merasa enggan untuk berada di luar ruangan apalagi berada di lahan terbuka seperti Victoria. Wajah-wajah mandi keringat, dengan polesan wajah tebalnya yang meluntur menjadi pemandangan yang membuatku semakin gerah. Maklum, bulan Agustus merupakan puncak musim panas di Hongkong sehingga udaranya yang panas apabila berpadu dengan suasana Victoria yang padat akan semakin menambah kesumpekan kota.

”Hen, bisakah kau menolongku ke Wan Chai atau ke Tsim Sha Tsui? Tolong carikan baterai laptop. Sudah tiga hari ini laptopku lemah baterainya. Aku ingin cari sendiri tetapi simbahku masuk rumah sakit jadi aku tidak libur. Please ya Hen, uangnya aku ganti kalau kita ketemu atau aku kirim lewat rekeningmu deh,” pinta Lusia padaku.

Sebenarnya bukannya aku tidak mau menolong tetapi cuaca kali ini sungguh kurang bersahabat sehingga malas rasanya aku berdesakan di MTR atau di Tram menuju Wan Chai namun aku tidak tega mengelak karena Lusia sedang ada halangan. Dengan berat hati, akhirnya aku melangkah menuju MTR pintu E. Segera aku cari pegangan yang menggelantung di atap MTR. Ribuan pasang tangan bergelantungan di sana. Salah satunya adalah tanganku karena tidak mendapat tempat duduk. Berdiri sambil berpegangan pada alat pengaman adalah hal biasa. Tujuanku adalah Computer Center di Tsim Sha Tsui.

MTR benar-benar penuh apalagi jalur Causeway Bay Tsim Sha Tsui. Bisa dipastikan antara  pekerja dari Indonesia dan masyarakat berbaur tanpa ada perbedaan derajat dan status. Pekerja dari Indonesia yang bekerja di rumah majikan telah berdandan ala nyonya majikan. Bergandeng mesra dengan tuan-tuan berwajah garang. Seperti pada wanita yang bergelatungan di sebelahku ini. Ketika aku perhatikan dari rambut hingga lutut, yang hampir tertutup hanya bagian dada dan pantat, selebihnya kulit telanjang. Semakin  terkesiap rasanya ketika aku kembali melihat wajah itu. Wajah yang aku kira wajah Senduk. Perempuan ini berpakaian yang sama dengan yang aku lihat kemarin. Bersama laki-laki yang sama pula. Benarkah dia Senduk? tanya batinku kembali. Jarak kami tidak terlalu jauh maka aku berusaha menyapanya.

”Senduk… ya?” Aku sedikit ragu. Perempuan sepantaran denganku ini sedikit terkejut. Dia sedikit tersipu. Terlihat seperti mencoba untuk mengingat-ngingat wajahku. Melihat reaksinya, segera saja aku jelaskan siapa aku. Setelah mengetahui bahwa aku mengaku teman sedesanya, perempuan yang kukira bernama Senduk segera menjawab. Dia mengaku bernama Selly. Aku tanggap dengan penolakan itu sebab di sampingnya berdiri seorang laki-laki yang dengan erat menggenggam jemarinya. Mungkin Senduk malu mendengar namanya yang terdengar kurang modern sehingga nama Selly akan lebih tepat diucap lidah dan didengar telinga.

Aku segera meminta maaf atas kekeliruan ini namun anehnya wanita  yang aku kira Senduk ini justru memberiku nomor telepon yang ditulis di robekan kertas lusuh seraya memberikan isyarat agar aku menelponnya. Setelah itu ia bergegas keluar menuju stasiun berikutnya seraya menyeret tangan laki-laki bule itu.

****

Seusai perkenalanku dengan Selly, aku seperti  tidak kuasa lagi menunda waktu untuk menelponnya. Aku begitu tak percaya kalau dia bukanlah Senduk. Perasaan perempuanku mengatakan bahwa ia adalah Senduk. Walau bertahun lamanya tidak bertemu, garis rahang dan cara senyumnya tak pernah aku lupa. Aku tetap yakin wajah yang kini berubah menor seperti pelangi itu adalah Senduk. Setelah dering telponku tersambut, tanpa ba..bi..bu lagi segera aku serang dengan penjelasan bahwa aku adalah Heni. Aku berasal dari desa Kepanjen Lor. Sedikit tergagap suara di seberang sana, ia meminta maaf atas ketidakakuannya kemarin.

”Aku benar Senduk, Hen,” katanya parau.

”Syukurlah kalau begitu. Terus berapa lama kamu di Hongkong?” tanyaku suatu ketika saat kami bertemu.

”Hampir tiga belas tahun. Sejak bercerai dengan Kang Karim, aku putuskan untuk ke Hongkong.”

”Aku tidak mungkin mengarungi kehidupan pesantren yang serba bergaris dosa. Melakukan ini dosa. Melakukan itu dosa. Aku tidak bisa menunggu rezeki jatuh dari langit dan hanya mengandalkan doa-doa. Sebenarnya doa adalah perisai tetapi kalau tidak diikuti usaha bagaimana dapur bisa mengepul? Selama tiga tahun aku mendampingi kang Karim, ternyata aku hanya mendampinginya dalam mengalunkan doa-doa. Setiap usai dhuha, bukan menyingsingkan lengan baju untuk menggarap ladang, ia malah mengetatkan sarung untuk menyambung sholatnya. Begitu terus dan terus. Mungkin kalau kami diganjar kelebihan harta, bersholat terus pasti tidak akan kelaparan. Lha.. kami ini orang-orang yang kekurangan kalau tidak mencari ya tidak ada yang dimakan. Bapakku saja penjual tape keliling kalau dipakai untuk menyokong kehidupan kami apa yang disokongkan?” Suara Senduk  tersendat. Ia mengambil nafas panjang. Aku melihat ada cemarut kelabu di sungging senyumnya.

”Yach. Aku ternyata tidak sanggup hidup mendampingi orang yang hanya menunggu rezeki jatuh dari langit, Hen. Bukannya aku meminta lebih, tetapi setidaknya bekerjalah dengan wajar seiring dengan usaha dan doanya. Untunglah waktu itu kami belum dikaruniai anak, sehingga keputusan cerai segera aku ambil karena memang aku tidak mampu bertahan. Tiga tahun seperti dua windu lamanya.”

Aku merasakan getas hati Senduk. Betapa rumah tangga muda yang belum genap bekalnya telah poranda pula tetapi memang keputusan harus berani diambil. Termasuk keputusan Senduk untuk hidup di komunitas barunya dengan bule-bule yang mau merawatnya. [tR]

@Sheung Wan, 2011